Ibu-ku Murobbiyah-ku

Allah Subhanahu wata'ala mengingatkan bahwa manusia dilahirkan dari perut ibunya tanpa pengetahuan sedikitpun sebagaimana firman-Nya :
{وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [النحل: 78]
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. [An Nahl (16):78]

Ibu-ku tercinta MULIATI namanya, dari namanya, beliau terkadang berkata dengan nada bercanda bahwa nama tersebut maknanya MULIA haTI-nya, kenyataannya memang seperti itu. Tidak satupun orang yang mengetahui siapa dia lalu mengatakan sebaliknya. Beliau lahir di OSAKA bukan Jepang tapi singkatan dari Ora-i SAlo KAmpong Awo di Kabupaten Soppeng, tidak lama setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 50-an. Sejak bayi sudah yatim piatu, menurut cerita, Bapak-nya yang bernama "Utsman" seorang pengusaha yang sering bolak-balik dari desa ke kota, dianggap mata-mata sehingga di bunuh oleh kaki tangan penjajah, demikian pula Ibu-nya "Maddiawe atau I-Diawe".

Tragedi kematian Kakek dan Nenek, kedua orang tua Ibu-ku, jika didengar tentu akan menyulut api amarah, dendam penuh angkara murka yang harus dibayar dengan darah, namun ternyata sikap memaafkan dan mengembalikan segala urusan hanya kepada Allah Penguasa Jagat Raya lebih dominan di hati Ibu-ku yang pada saat itu masih bayi dan tidak tahu apa-apa. Terkadang saya bertanya siapa dalangnya?, jika sudah tiada siapa dan dimana anak keturunannya?.

Sepeninggal kedua orang tua-nya, yang mewariskan beberapa petak sawah, itupun dirampas sebagiannya oleh keluarga dan diklaim sebagai miliknya. Ibu-ku tidak pernah berusaha mengambil hak-nya sama sekali apalagi sampai menempuh jalur hukum. Kesabaran yang luar biasa, yang sulit bahkan mungkin tidak akan didapatkan lagi orang yang seperti beliau di zaman seperti ini.

Sejak kedua orang tuanya tiada Ibu-ku dirawat dan dibesarkan oleh Tantenya yang biasa saya panggil "OMA" atau Nene Bute' (Butery) adik bungsu dari Ibu-nya Ibu-ku, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan di dunia dan di akhirat. Setelah masuk usia sekolah Ibu-ku pindah di rumah om-nya yang kebetulan tinggal di kota, juga pernah tinggal di rumah tantenya Hj. Roosi.

Setelah selesai menempuh pendidikan yang mungkin hanya setingkat SLTP, Ibu-ku tinggal di rumah keluarganya yang berstatus sebagai bos, pengusaha yang terbilang kaya dan sejahtera, yang memiliki bengkel otomotif dan mempekerjakan beberapa orang mekanik. Dari sinilah bermula ibu-ku bertemu dengan seorang pemuda, Ayah-ku tercinta, Muhammad Tang namanya, seorang mekanik yang tidak pernah minta upah, kulitnya hitam meski belum menyentuh oli, rambut kribo sebagai mahkotanya, berbeda dengan Ibu-ku gadis desa, bahkan bunga desa, anak angkat seorang yang kaya, kulitnya putih bersih meski belum mandi. Tapi perbedaan itu tidaklah menghalangi bertemunya dua insan, seperti itulah jodoh. Ibu-ku dinikahkan dengannya, dan dianugrahi empat orang anak : Lukman, Mu'awiyah [meninggal], Zainal dan Wahyudi.

Pernikahan Ibu-ku hanya bertahan sekitar 13 tahun, Ayah-ku wafat pada saat usia-ku sekitar 9 tahun, sementara Ibu-ku berusia sekitar 30 tahun. Masih sangat muda, bahkan masih banyak yang suka dan ingin menikahinya.

Ibu-ku seorang single parent, pekerja keras, menghidupi, menyekolahkan dan membesarkan anak-anaknya dengan hasil keringat sendiri, jauh dari meminta-minta, jauh dari utang. Bahkan sebaliknya orang yang ber-utang padanya.

Banyak usaha yang pernah dilakukannya untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga diantaranya dengan membuat kue, yang setiap hari sebelum berangkat sekolah saya antar dan titip di warung-warung kopi atau toko-toko kue, dan sebagiannya dijual di rumah. Pernah juga jualan beras di pasar, profesi terakhir yang dilakoninya adalah mengelola kantin sekolah, terkadang menggaji orang untuk membantunya.

Alhamdulillah, hasil keringat yang halal inilah yang disuapkan kedalam mulut anak-anaknya, dan sebagiannya digunakan untuk biaya pendidikan. Baginya sekolah itu penting dan menjadi tolak ukur keberhasilannya sebagai seorang Ibu yang berpendidikan rendah dengan melahirkan anak-anak yang bisa sarjana.

Ibu-ku semoga dimuliakan Allah, Anak-anaknya bisa pintar membaca Al-Qur'an karena dia yang langsung terjun mendidiknya, tidak seratus persen diserahkan ke guru-guru ngaji yang ada. Saya sendiri kelas tiga SD sudah tammat ngaji 30 juz, selain belajar di tetangga juga langsung belajar sama IBU. Sholat lima waktu tidak boleh tidak harus dikerjakan, kalau subuh dibangunkan meski dengan berbagai macam cara, diperciki air, misalnya. Puasa Ramadhan, tarwih dimasjid tidak boleh ada yang bolong. Beberapa hari setelah meninggalnya, kakak "sms" : doakan mama!, saya jawab: iya. Dalam hati kecil-ku terbersit bahwa membaca Al Qur'an dan ibadah apapun yang kulakukan tentu pahalanya juga akan mengalir kepadanya, kepada Ibu-ku Murobbiyah-ku.

"إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا نَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، تلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ"
“Sesungguhnya amal kebaikan yang akan sampai kepada mayit setelah meninggalnya adalah : ilmu yang dia sebarkan, anak shalih yang dia tinggalkan, mushaf yang dia wariskan, masjid yang dia dirikan, rumah yang dipakai para musafir yang telah dia bangun, sungai yang dia alirkan, atau shadaqoh yang dia keluarkan dari hartanya pada saat dia masih hidup dan sehat, semua akan sampai kepadanya setelah dia meninggal”. [HR. Ibnu Majah]

Setelah saya menyelesaikan kuliah, belum menerima ijazah, tapi sudah ada pendapatan bulanan meski sedikit. kusampaikan keinginanku pada Ibu-ku, "diantara kewajiban orang tua adalah menikahkan anaknya", dia-pun memberikan cincin emasnya untuk kujadikan mahar, ditambah beberapa kalimat nasehat agar siap bertanggung-jawab terhadap keluarga, meski gaji sebelum menikah sangat minim, tapi jangan khawatir, kalau saya [ibu-ku] makan maka anak dan menantu-kupun insya Allah bisa makan.

Ibu-ku sendiri pernah langsung mendatangi orang tua wali seorang akhwat yang dikenalnya, untuk dilamar, namun ditolak secara halus dengan alasan suruh cari kerja dulu, harus mapan dulu, tidak lama setelah itu wanita tadi dinikahkan dengan lelaki yang mapan lagi berpengalaman [baca:duda punya anak]

Ibu-ku berjilbab, dan berusaha menjaga auratnya karena satu ayat beserta terjemahan yang dia baca :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. [Al Ahzab (33):59]

Ibu-ku senang melihat orang yang berhijab, terlebih akhawat yang memakai jilbab yang lebar dan longgar, dia juga selalu mengingatkan orang-orang dekatnya agar berhijab, terkadang disiapkan hijab untuk dihadiahkan.

Ibu-ku senang melihat orang-orang yang menegakkan dan mengamalkan sunnah bahkan mendukung dan membelanya.

Ibu-ku memberi perhatian besar terhadap agama anak-anaknya, baginya ISLAM itu adalah Al Qur'an dan Sunnah, Hadits-hadits Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam. Hal itu sering diingatkan sebelum saya berangkat ke Makassar meninggalkan kampung halaman, selalu diingatkan agar mengingat Allah dan Rasul-Nya bukan sekedar mengingat IBU. Pengalaman spiritual yang kujalani akhirnya mengantarkan pada satu kesimpulan bahwa ISLAM itu adalah Al Qur'an dan Sunnah aebagaimana yang telah dipahami dan dipraktekkan oleh Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya serta para pengikutnya.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [Attaubah (9):100]

Sebenarnya masih banyak hal yang tersimpan dalam memori ini yang berkaitan dengan ibu-ku, yang bisa memberikan manfaat dan pencerahan bagi diri-ku namun saya tutup dengan detik-detik menjelang kematiannya; ibu-ku jatuh sakit diawal ramadhan, sahur pertama dan terakhir baginya. Kabar yang kuterima "ibu-ku di opname di rumah sakit", Saya-pun segera menyiapkan perjalanan untuk pulang, berangkat dari Selayar ke Soppeng, berangkat sendiri, istri yang setia mendampingiku menyusul setelah beberapa hari. Setelah beberapa malam di opname di RS, kondisi fisik semakin lemah, sementara team dokter tidak mampu lagi, mungkin karena sarana atau pengalaman yang kurang sehingga penyakit dan sumbernya tidak terdeteksi. Akhirnya diputuskan keluar dari RS dan akan di rujuk ke Makassar jika kondisi fisik cukup kuat. Namun satu dua hari dirawat di rumah, nafsu makan mulai pulih, sempat minta dibelikan COTO tapi tidak dipenuhi khawatir tensi -tekanan darah-nya naik. Di hari kematiannya, sebelum sholat Ashar saya ingatkan supaya senantiasa memohon ampun dan istighfar, terdengar sayup dan lirih lafadz istighfar keluar dari mulutnya, saya-pun berdiri untuk sholat ashar dilanjutkan dengan dzikir sore-petang, setelah selesai saya berbalik menghadap kearahnya, ternyata bibir dan kuku-kuku kaki dan tangannya sudah membiru, mungkin karena menahan sakitnya sakaratul maut, kupanggillah OMA dan Patta Jinca -Suaminya- serta istriku untuk mendekat dan mengantar detik-detik kepergiannya. Pada saat itulah ibu-ku menghembuskan nafas terakhirnya setelah ashar menjelang magrib.

Setelah itu jenazah ibu-ku dipindahkan di ruang depan, dengan wajah yang putih bersih dihiasi dengan senyum dan bintik-bintik keringat di dahinya. Ke-esokan harinya proses penyelenggaraan jenazah di mulai, seluruh keluarga dan handai taulan berdatangan melayat dan ta'ziyah, ratusan orang yang hadir. Setelah selesai dimandikan dan dikafani, mengingat banyaknya orang yang hadir dan juga untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk sholat jenazah dan kesempatan bagiku untuk meng-imami sholat jenazah, maka saya memimpin sholat jenazah tahap pertama di rumah dengan ma'mum keluarga dan kerabat yang ada di rumah setelah itu jenazah diangkat dan di sholatkan lagi di masjid di-imami imam setempat dengan ma'mum para pelayat yang sudah berdesak-desakan menunggu di masjid. Ratusan orang menyolati dan mengantarkan jenazahnya. Setiba di kuburan, tiba-tiba penggali kubur menengur "jangan lewat dibagian barat lubang kubur", ternyata para penggali khawatir jangan sampai tanah diatas liang lahat jatuh, dimana sebelumnya sudah dibuatkan liang lahat berkali-kali dan setiap kali itu pula tanah diatasnya jatuh, sehingga harus tanahnya harus diangkat lagi, hal ini menyebabkan lubang kuburan semakin luas ke barat, hingga akhirnya ditopang agar tanahnya tidak jatuh lagi menutupi liang lahat. Ibu-ku dikuburkan didalam lubang yang panjang dan lebarnya hampir sama.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" [Attaubah (9):100]

-------------------------------

Ibu-ku engkau telah menjadikan hari-harimu terisi dengan lantunan Al-Qur'an...
Ajal menjemputmu di bulan yang mulia, bulan diturunkannnya Al-Qur'an...
Semoga Allah Ta'ala menjadikanmu Shohibah Al-Qur'an...

{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [الأعراف: 204]
Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. [Al A'roof (7):204]



-------------------------------

Amalan yang tak terputus

"Maka berbicaralah kamu berdua (Musa & Harun Alaihimassalam) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang LEMAH LEMBUT, mudah-mudahan ia ingat atau takut" [TQS. Thoha (20):44]