Siapa Saya - من أنا - Who Am I - I Nai Nakke' - Niiga Iyya' -

Siapa saya..???

Pertanyaan yang kutujukan buat diriku, dengan mencoba melihat serta mencari-cari jawaban dari orang-orang selain diriku yang bertanya dengan pertanyaan yang sama, "Siapa Saya" ternyata pertanyaan seperti ini sering muncul dan dijawab dengan berbagai macam jawaban yang berbeda-beda.

Bagi seorang Muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wata'ala sebesar apapun keimanannya, tentu akan menjawab : Saya adalah makhluq ciptaan Allah Ta'ala yang Maha Tinggi ~baik Zat maupun Kekuasaan-Nya~.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ} [الأنعام: 102]
(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia [Al-An'am (6):102]

Pada ayat sebelumnya Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [الأنعام: 101]
Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. [Al-An'am (6):101]

Ternyata saya adalah makhluq ciptaan-Nya, lantas buat apa saya diciptakan..??? Jawabannya tentu agar beribadah menyembah Allah Azza Wajalla, sebagaimana firman-Nya :
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذاريات: 56]
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [Adz-Dzariat (51):56]

Bagaimana caranya beribadah menyembah Allah Subhanahu wata'ala..??? Apakah diperkenankan membuat berbagai macam cara dan tarekat sendiri dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata'ala..?!?!?

Ternyata Allah tidak menciptakan kita sia-sia, tanpa petunjuk, tanpa peringatan, Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ} [فاطر: 24]
Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. [Fathir (35):24]

{وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا} [الإسراء: 15]
dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. [Al-Isra' (17):15]

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ} [الأنبياء: 25]
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". [Fathir (35):24]

Demikianlah Allah Subhanahu wata'ala menciptakan manusia termasuk "saya", lalu mengutus Nabi dan Rasul untuk memberikan bimbingan tata cara beribadah yang benar, oleh karena itu wajib bagi setiap ummat untuk mengikuti Nabi dan Rasul yang diutus kepada mereka. Terlebih para Nabi dan Rasul Tersebut telah menekankan hal itu kepada ummatnya, sebagaimana kisah mereka dalam Al-Qur'an surah Asy-Syu'araa, Allah Ta'ala menyebutkan seruan mereka :

{إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ * فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ}
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Ittiba' dan Taat kepada Rasul adalah tanda benarnya kecintaan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata'ala, sebagaimana firman-Nya :
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ} [آل عمران: 31]
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." [Ali Imron (3):31]

Seperti itulah jawaban dari pertanyaan "siapa saya" jika ditujukan kepada manusia secara umum.

Bagaimana jika pertanyaan itu ditujukan kepada diri saya pribadi...?!?! dan bukan saya yang menjawabnya..

Ternyata muncul beragam jawaban, ada yang mengatakan saya "Ustadz", padahal gelar seperti ini tidak mudah, jangankan "ustadz" dipanggil "santri" saja, saya sangat tidak layak untuk itu, meski saya masih mengantongi Kartu Tanda Santri :

Kartu Tanda Santri

Berhubung kondisi saya sekarang (ketika menulis ini) kebanyakannya duduk depan Laptop, bukan duduk di pesantren di depan "Kiai", tapi di Mozilla bersama om Googel, jadi baik gelar "santri" apalagi gelar "ustadz" tidak layak kusandang.

Walaupun belajar agama tidak kutinggalkan, dimana saya sekali-kali mengisi blog : Kumpulan Materi : Kajian Islam || Khotbah Jum'at || Ceramah Agama || Tarbiyyah dan Kultum. dengan cara copy paste, atau merangkum berbagai artikel dengan topik bahasan yang serupa yang biasanya kucari dan kudapatkan dari Google Salafy Indonesia || Blog Pencari Artikel Bermanhaj Salaf dan situs-situs terpercaya serta kupercaya lainnya. Bahkan bukan hanya depan laptop tapi terkadang safar menghadiri kajian, daurah dan ta'lim di luar kota, atau dengan menghadirkan asatidz dari luar, dan juga rutin duduk bersama saudara mengkaji kitab-kitab para ulama', namun meski demikian halnya, cukup panggil saya "Akh. Zain" atau "ZAIN" saja.

Sebagian orang ada yang memanggil saya "dok!", maksudnya dokter, mereka konsultasi dan bertanya hal-hal berkaitan dengan dunia medis, hanya karena pernah memposting hasil copas ini : Kumpulan Soal Jawab Seputar Demam pada Anak, dan artikel kesehatan lainnya.

Ada lagi yang menelepon dan menyangka saya adalah agen pos, katanya dia baca dan dapatkan nomor telepon di : Lacak Kiriman Via Pos Indonesia, memang betul, ini adalah artikel yang saya posting di blog : Ash-Shiddiq Agency Selayar tapi itu bukan berarti, kalau saya itu tukang pos.

Ada juga yang pernah menelepon dan mengira saya Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru di Jami'ah Islamiyah Madinah yang tinggal berdomisili di Madinah, katanya dia dapatkan no. HP saya melalui internet, ada juga yang bilang dari temannya, padahal kemungkinan mereka membaca posting : Cara Pendaftaran Universitas Islam Madinah secara Online tapi mungkin karena tidak dibaca semua dari awal sampai akhir, akibatnya informasi yang didapatkan terpotong, lalu disebar tanpa cek dan ricek. Untungnya bukan ayat Al-Qur'an yang dipotong-potong.

Sebenarnya masih banyak panggilan dan gelar yang terkadang orang sematkan, semoga itu semua berdasarkan sangkaan yang baik bukan prasangka buruk serta pujian yang berlebihan, apalagi olok-olok.

Pertanyaan "siapa saya?" juga pernah diajukan oleh Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam kepada seorang budak wanita, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِي قَالَ: كَنَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَلْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ آسِفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ- فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا؟ قَالَ ائْتِنِيْ بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Dari Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamy –radhiyallahu‘anhu- beliau berkata: “Saya mempunyai seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing-kambingku di arah gunung Uhud dan Al Jawwaniyyah (sebelah utara Madinah). Maka suatu hari (ketika) saya mengontrol ternyata seekor serigala telah membawa (memangsa) seekor kambingku –dan saya adalah seorang lelaki dari anak Adam- sayapun marah sebagaimana (umumnya) anak Adam. Tetapi saya memukulnya dengan sekali pukulan. Lalu saya mendatangi Nabi –shallallahu’alayhi wa ‘ala alihi wa sallam-. Maka beliau menganggap besar hal tersebut atasku, saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah saya memerdekakan dia?’ Rasulullah menjawab: ‘Datangkanlah dia’. Maka saya mendatangkannya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya: ‘Dimana Allah?’ Dia menjawab: ‘Di atas langit’. Dan beliau bertanya (lagi): ‘Siapakah aku?’ Dia menjawab: ‘Engkau adalah Rasulullah’. Kemudian beliau bersabda: ‘Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah’.” (HR. Muslim no. 537)

Subhanallah, Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam menetapkan keimanan baginya karena telah menjawab dua pertanyaan, yang mungkin sulit dijawab oleh orang-orang di zaman ini yang fitroh dan nalurinya telah dikuasai oleh akal dan logikanya.

Siapa saya? karena begitu seringnya muncul pertanyaan seperti ini, sejak zaman Nabi sampai akhir zaman ini, makanya dari awal kali menulis di blog ini sudah saya posting sebelumnya beberapa hal yang berkaitan dengan "saya" baca di Profil - Curriculum Vitae.

Informasi tersebut tentu sangat tidak mencukupi, karena sebenarnya saya takut dan sangat khawatir pembaca mengenal siapa diriku sebenarnya, ter-ingat dengan perkataan seorang Tabi'in Murid Sahabat Nabi, Muhammad bin Wasi’ (w. 123 H.) :
«لَوْ كَانَ يُوجَدُ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ مَا قَدَرْتُمْ أَنْ تَدْنُوَ مِنِّي مِنْ نَتْنِ رِيحِي»
“Andaikan dosa itu mempunyai bau, niscaya kalian tidak sanggup dekat denganku karena busuknya bauku.” [Hilyatul ‘Aulia 2/349]

Terakhir, sebagai penutup bagi keluarga dan relasi yang sudah mengenal saya tapi lupa nomor HP atau mau tahu no. HP saya, meski jarak memisahkan kita jangan khawatir selama dunia maya belum kiamat, silahkan tanya om googel : "Berapa nomor HP Zainal..???" semakin detail kata kunci yang dimasukkan maka akan semakin pas jawabannya.




_______

Fawa'id :

"Maka berbicaralah kamu berdua (Musa & Harun Alaihimassalam) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang LEMAH LEMBUT, mudah-mudahan ia ingat atau takut" [TQS. Thoha (20):44]